Gelang Merah – part 1

Gelang Merah

Aku dilahirkan ditengah keluarga religius, ayah dan ibuku begitu taat dengan agama. Mereka sangat mengutamakan agama disetiap kehidupanku dan ketiga kakak-kakakku. Jika dalam al-quran dan al-hadist berkata “tidak” mereka tak segan untuk menolaknya, misalnya saja dalam hal pacaran. Mereka sangat benci sekali, terutama ayahku. Ia sangat tidak suka dengan istilah pacaran, kata ayah pacaran itu tidak ada yang ada hanyalah ta’aruf. Sehingga ia tidak mengizinkan ketiga putrinya untuk pacaran, boro-boro pacaran, berteman dengan pria saja ayah sudah marah besar. Kata ayah itu tidak boleh “bukan muhrim” alasannya. Yaa, memang ayah seperti itu, diktator. Makanya kakak-kakakku tidak ada yang pacaran, lulus kuliah, kerja, dijodohin, taaruf, cocok, langsung deh merried. Tapi mereka juga memang anak yang penurut sih. Gak bandel macam aku hehehe.
Suatu hari, aku yang baru lulus dari sekolah menengah pertama negeri Islam atau yang terkenalnya MTS ingin melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.
“Nisa, bagaimana kalo lulus smp ini kamu mondok saja di Jawa seperti kakak-kakakmu yang lain”
“Apa? Mondok yah” sahutku kaget, aku memang berbeda dengan kakak-kakakku yang lain. Kata ayah aku anak yang bandel dan keras kepala. Aku juga bukan anak yang agamis seperti kakak-kakakku.
“Iya mondok, supaya kamu bisa lebih mengenal agama” lanjut ayah
“Gimana ya yah, kalo Nisa pengen sekolah disini aja gimana yah. Yaa di SMA umum gitu”
“Tidak, ayah tidak mengizinkanmu”
“Kenapa yah”
“Ayah tidak ingin kamu terjerumus pada pergaulan sekarang. Coba kamu lihat, degradasi moral pemuda saat ini. Parah nak, lebih baik kamu mondok saja, seperti kakak-kakakmu, coba lihat kakak-kakakmu sekarang, hidupnya enak, suaminya mapan dan soleh. Apa kamu tidak ingin seperti itu” penjelasan ayah itu membuat suasana menjadi tegang.
“Nisa gak begitu yah. Kenapa sih ayah terlalu over protektif sama Nisa. Dari kecil ayah gak pernah membiarkan Nisa untuk memilih pilihan Nisa sendiri. Ayah selalu diktator, toh kak Alif dan kak Nadia Smp nya dulu di umum yah.” Sahutku menjelaskan pada Ayah  dengan nada emosi.
“Ayah bukan bersikap seperti itu, ayah juga tidak menganggap sekolah umum itu tidak lebih baik dari pada pondok. Tapi ayah menyuruhmu mondok supaya kamu bisa mengenal agama lebih jauh, kalau kamu sekolah di SMA umum pelajaran yang kamu dapat dibatasi oleh jam belajar yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah” jelas ayah kepadaku.
“Tapi ayah, kumohon kali ini saja”
“Tidak, sekali tidak tetap tidak” mendengar kata ayah seperti itu aku langsung masuk kekamar dan meninggalkan ayah begitu saja. Saat itu aku merasa kesal dengan sikap ayah, ia begitu diktator. Memang sih baik sekolah di pondok, tapi kalo aku tidak mau. Apakah harus dipaksa? Aku kan ingin sekolah diumum, punya banyak teman dan belajar bersosialisasi. Aku capek, seperti waktu di MTS dulu aku diibilang aneh dengan teman temanku. Bagaimana tidak,berangkat sekolah selalu diantar ayah dan pulangnya selalu dijemput tepat waktu. Ketika ketahuan ayah kalo aku sedang bicara dengan teman pria, ayah langsung memarahiku dan teman priaku itu. Kata ayah itu dosa. Malam itu aku bergeming sendiri didalam kamar  tiba-tiba ada suara hangat dari balik pintu kamarku.
“Nak, buka nak” kata suara hangat. Yang aku bisa tebak pasti ibuku
“Masuk aja bu” lalu ibu membuka pintu kamar dan masuk menghampiriku kemudian duduk disampingku yang sedang berbarring diatas ranjang.
“Nisa marah sama ayah” tanya ibu sambil mengelus elus rambutku
“Endak bu. Cuma kesal aja”
“Kemauan ayah itu baik kok nis, dia cuma ingin membuat nisa lebih baik dan lebih taat sama agama, seperti ka nadia dengan kak alif” entah apa maksud ibuku berkata seperti itu, entah untuk mempengaruhiku agar nurut dengan kemauan ayah. Atau hanya menyimpulkan maksud ayah tadi.
“Tapi bu, please untuk kali ini saja. Aku ingin merasa sekolah diumum. Aku gak akan macem macem kok bu. Aku bisa jaga diri” jelasku pada ibu. Sambil menatap mata ibu dalam dalam.
Mendengar kalimat itu, ibu hanya tersenyum sembari mengecup keningku dan menyuruhku untuk lekas tidur.

***
(bersambung)

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s