Gelang Merah – part 2

Esok harinya, saat aku bangun dari tidur. Seperti biasa aku sarapan dengan ibu dan ayah. Ketika itu suasan seakan beku. Ayah tak bicara sepatah kata pun padaku, dan ibu, juga terlihat tidak seperti biasanya. Hari esoknya pun demikian, hingga pada saat hari ketiga, ayah memanggilku dan menyuruhku untuk berbincang diruang tamu.
“Nisa”
“Iya, ada apa yah”
“Ayah mengizinkan kamu sekolah diumum”
“Apa, serius yah. Makasih ya yah” saat itu hatiku senang tak terkira, aku langsung memeluk ayah dan ibu. Hatiku berbunga bunga. Jiwa ini lepas, wajahku pun berubah jadi ceria.
Akhirnya hari yang ku impikan tiba, aku didaftatkan ayah masuk ke salah satu SMA negeri yang ada disamarinda. Hari pertama masuk disekolah itu, saat baru tiba digerbang sekolah. Aku merasa asing dengan keadaan disana. Kuperhatikan disekelilingku. Begitu mudahnya mereka bersosialisasi tanpa batasan antata pria dan wanita. Pakaian seragamnya pun begitu berbeda dengan sekolahku sebelumnya, sebab disana ada yang tidak memakai penutup kepala (hijab). Semua analisa itu kusimpan dalam hati saja dan pura pura mengabaikannya.
Beberapa bulan kemudian, aku mulai terbiasa dengan keadaan itu, aku juga sudah mempunyai banyak teman wanita dan beberapa teman pria yang tidak diketahui ayah. Sebab jika ayah tau, habislah aku.
“Nis kita jalan yok” kata Cindy, salah satu teman wanitaku
“Kemana?”
“Makan lah nis” kata  sarah, salah satu teman wanitaku juga
“Bareng? Sama cwo nya?”
“Iyalah nis” kata cindi menjawab.
Aku bingung harus jawab apa. Kalo aku ijin sama ayah untuk pulang agak telat pasti ayah akan tanya kenapa dan mau tidak mau aku harus berbohong tapi kalo aku tidak ikut mereka,  ah tapi aku kan pengen ikut mereka. Eh tapi bagaimana dengan ayah. Hatiku bergumam sendiri kala itu.
“Nis, bisa kan?”  Kata Farah, salah satu temanku juga
“Ah iya, bisa kok” keputusan spontan yang begitu cepat keluar dari mulitku.
Selanjutnya,sebelum bel sekolah berbunyi. Aku berusaha untuk menelpon ayah supaya tidak mmenjemputku dan terpaksa berbohong kalau aku kerja kelompok. Aku terpaksa melakukan itu agar ayah mengizinkanku pergi. Maafkan aku ayah.
Selama dua semester aku berbohong pada ayah dan beralibi kerja kelompok. Sampai ketika aku naik kelas dua Sma, ayah melihat rapotku, ia begitu senang karena nilai rapotku bagus-bagus semua, kata ayah kalau nilaiku bagus-bagus semua, ia akan menyekolanku dokter di Singapure, tempat tinggal kak Nadia dan suaminya, lagi lagi kemauan ayah
“Wah, nilaimu bagus bagus nis, pasti ini karena kamu giat kerja kelompok dengan teman temanmu” kata ayah bersemangat
“Ah, iiiya mungkin yah. Hehe” sahutku canggung. Bagaimana tidak, semua kerja kelompok itu kan hanya alibi supaya aku bisa jalan dengan teman-temanku bukan supaya peringkatku dan nilaiku bagus. Mungkin saja nilai dan peringkatku bagus karena faktor keberuntungan. Maafkan aku ayah
Ketika aku naik kelas dua SMA, ayah memberikan kepercayaannya padaku dengan tidak antar jemput aku lagi. Sungguh. Kebebasan yang dari dulu ku impi-impikan. Hari-hari berikutnya, aku lakoni berangkat naik bus dan pulang naik bus. Akhirrnya aku bisa merasakan duduk dikendaraan umum tanpa ayah disampingku. Suatu hari, saat menunggu bus dihalte sekolah, aku melihat kakak kelas yang sedang menuju halte bus dan dia duduk disampingku. Entah kenapa aku jadi salting, apalagi ketika kakak itu tersenyum dan menyapaku kemudian memulai obrolan singkat hingga bus datang menghampiri kami.
Lambat laun, kami menjadi semakin akrab. Setiap pagi, hanphone ku selalu bergetar karena pesan singkat yang berisi ucapan selamat pagi dariny. Hari-hariku kian bersemangat saat dia selalu berusaha menghiburku disaat ayah memarahiku. Dan setiap malam, kamu selalu menyampaikan ucapan selamat malam kepadaku, begitupun aku. Ternyata obrolan singkat itu mampu membuat kami merasakan getaran yang sama yang bisa disebut “cinta” . Dan saat itu, ia menyatakan cinta padaku.
“Nis, aku mau ngomong sesuatu nih.” Ucapmu dihalte, sambil menunggu bus datang.
“Ia kak, ngomong aja”
“Aku suka sama kamu nis”
Perkataan itu membuat hormon adrenalinku meningkat, jantungku berdegup cepat. Bagaimana tidak, sebab perkataan itu belum pernah kudengar sebelumnya.
“Aku tahu ayahmu tidak suka dengan kata pacaran, mungkin dia ada benarnya. Dan aku siap dengan resiko yang kuhadapi nantinya. Aku suka kamu, nis. Maukah kamu jadi pacarku?” Lanjut Arie menjelaskan.
Suasana itu jadi tegang, sebenarnya aku pengen pacaran sama arie, tapi dibenakku terlintas wajah ayah dan difikiranku, ah bukannya agama melarang pacaran. Tapi aku juga suka dengan Arie.
“Kak, aku pikir-pikir dulu ya, besok baru bisa kukasih jawabannya” jawabku pada Arie.
Malam hari setelah kejadian itu, aku tak bisa tidurku. Pikiranku berperang dengan pemikiranku sendiri. Besok, aku sudah harus mempunyai keputusan pasti. Antara “yes” atau “no”. Aku ingin yes, tapi ayah, aku sudah sering membohonginya. Tapi, ah mugkin saat itu aku dikalahkan dengan nasehat ayah.
Keesokan harinya, aku memberikan kepastian pada Arie.
“Kak”
“Ia nis, gimana keputusanmu”
“Emmm iiya kak”
“Iya apa”
“Ia, aku mau jadi pacar kakak”
Sejak saat itu, aku mulai mengerti apa itu pacaran dan bagaimana pacaran itu. Namun hal itu tak berlangsung beberapa lama. Pacaran diam-diam itu mulai terendus oleh ayah. Karena sikapku yang berubah, aku lebih sering berdiam m dikamar dan tidak lepas dari handphone. Saat aku tertidur dengan sengaja ayah mengecek hanphoneku. Dan tralala, semuanya terbongkar. Malam itu, aku langsung dibangunkan ayah. Ia marah besar, kecewa dan menyesal menuruti pilihanku untuk sekolah di SMA umum.
“Ayah kecewa sama kamu, ayah kira kamu bisa dipercaya. Ayah kira kamu sudah dewasa untuk memilih mana yang baik mana yang buruk. Ternyata ayah salah, berkali kali ayah bilang ke kamu, pacaran itu dosa, awal maksiat, pacaran itu salah, tapi kenapa kamu lakukan. Dan kamu, nisa. Telah membohongi ayah dengan beralasan kerja kelompok. Ternyata apa, kamu jalan dengan teman temanmu. Seperti itukah, nisa. Kamu menodai kepercayaan ayah.”
Sungguh. Disitu aku hanya terdiam dan menangis. Aku sangat menyesal dan merasa berasalah dengan apa yang aku perbuat. Ternyata bukan cuma ayah dan ibu yang kukecewakan, tapi Tuhan juga ikut kecewa. Aku sudah pasrah dengan hukuman yang akan ayah berikan padaku.
“Besok ayah akan urus surat pindahmu. Lebih baik kamu mondoj di Jawa. Kalo ini tidak ada tawar menawar lagi. Ayah betul betul kecewa.”
Yah. Mungkin itu hukuman bagi anak bandel sepertiku. Anak yang durhaka kepada orang tuanya, pembangkang, pembohong. Yah. Mungkin pilihan ayah yang terbaik buatku, mungkin dengan seperti ini ayah tidak marah lagi padaku.
Keesokan harinya ajudan ayah datang kesekolah dan mengurus surat pindah. Bisa dikatakan itu sekolah teerakhirku di SMA umum. Kesempatan itu ku manfaatkan untuk  mengucapkan kata perpisahan dengan Arie.
“Ri, sepertinya konsekuensi dari hubungan kita akan kita jalani. Ayah tahu semuanya.”
“Lalu, bagaimana?” Tanya Arie
“Ayah akan memindahkanku ke pondok sesuai dengan keinginannya, jadi, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”
“Begitukah”
“Yah”
“Dengan berat hati, aku menyanggupinya nis. Tapi, aku adalah orang yang sulit jatuh cinta. Hatiku kini sudah tertambat olehmu. Aku sanggup jika tidak berpacaran denganmu. Tapi untuk menghilangkan rasa ini, sepertinya aku tak sanggup. Besok, kamu sudah pergi. Aku akan memberimu sebuah gelang yang sama denganku, jika kamu masih mencintaiku pakailah gelang itu, jika kamu tidak cinta lagi. Kamu boleh membuang jauh-jauh gelang itu” Ujarnya menjelaskan padaku sambil menyodorkan gelang berwarna merah itu.
Dalam hati ini bergumam bahwa akupun demikian, sama sepertimu, hatiku sudah tertambat padamu, tapi perkataan itu hanya ada dalam hati, aku takut jika kukeluarkan akan membuatmu berharap lebih padaku.

(bersambung)

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s