Gelang Merah – part 3

(Beberapa bulan kemudian)
Saat ini aku sudah menjadi anak pondok yang soleha seperti keinginan ayah. Disini aku banyak memetik ilmu, aku menjadi tahu kenapa ayah begitu keras melarangku untuk pacaran dan tidak berteman dengan pria. Iya, ayah benar. Segala nasehat ayah dulu benar. Nisa yang salah. Maaf ayah, ibu. nisa telah membuat kalian kecewa. Disini nisa akan belajar agama dengan sebaik mungkin, sehingga saat keluar pondok nanti nisa sudah bisa memilih yang mana benar dan yang mana salah. Nisa janji itu yah, bu.
Setelah  lulus dipondok pesantren itu. Ayah menyekolahkanku ke universitas di Singapure dengan jurusan kedokteran. Ada beberapa hal yang kuingat disana tentang tanah kelahiranku, pertama Ayah dan Ibu, kedua Kak Nadia dan yang terakhir, Arie. Sungguh, aku tidak bisa melupakannya. Gelang merah pemberiannya masih menempel dipergelangan tanganku, aku, masih mencintainya.
Setelah aku berhasil memperoleh gelar dokter, aku bekerja disebuah rumah sakit di Samarinda dengan profesi sebagai dokter anastesi. Saat itu, ketika aku pulang tugas. Sekitar pukul 23.00 WITA aku bergegas keparkiran untuk mengambil mobilku, diperjalanan menuju parkiran aku melihat seorang dokter pria dari kejauhan. Samar-samar, geraknya mengingatkanku pada seseorang dan entah mengapa jantungku berdegup dengan kencang, aku tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Pria itu perlahan semakin mendekat dan wajahnya semakin jelas .
“Nisa”
“Arie” ucap kami bersama dengan kaget
Tak kusangka, ternyata itu Arie. Pria yang membuatku jatuh hati di SMA dulu sampai saat ini. Saat itu kami salah tingkah dan entah karena letih atau bingung mau berkata apa, aku hanya tersenyum dan melanjutkan keparkiran mengambil mobilku.
Esoknya, aku tahu kalau dia adalah seorang dokter baru dibidang syaraf. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang masih menyimpan rasa padanya yang sampai sekarang tak bisa kuhilangkan dan gelang itu, masih kukenakan. Siang harinya karena aku tidak ada pasien, jadi aku memutuskan untuk makan dikantin rumah sakit. Saat aku makan, tiba-tiba seseorang yang kutemui tadi malam menghampiriku lagi dan duduk satu meja denganku.
“Nis, aku duduk sini ya”
“Oh, iya silahkan”
Awalnya ia hanya basa basi menanyakan kehidupanku setelah pindah sekolah hingga ia menyinggung tentang hubungan yang pernah terjalin diantata kami.
“Nis, kamu masih ingat nggak. Aku ini siapa dimasa SMA mu”
“Ah ingat” jawabku kaget, mataku tertuju pada pergelangan tangan kanannya. Dimana terpadat gelang yang sama denganku.
“Nis, gelang itu?” Tanyanya kaget, karena melihat gelang yang melingkar dipergelanganku.
“Apa itu artinya, kamu masih mencintaiku?” Lanjutmu
Aku bingung harus berkat apa, aku harap gelang merah itu sudah mewakikan perasaanku padamu.
“Melihat gelang merah itu, mungkin aku langsung saja ya Nis. Dulu aku pernah bilang kan aku susah jatuh cinta karena hatiku sudah tertambat padamu”
“Iya, terus?”
“Melihat gelang itu aku ingin bertanya. Apakah kamu juga merasa seperti itu?”
Sungguh, pertanyaan itu mampu membuat ingatanku kembali pada jaman SMA dulu.
“Memang kenapa?”
“Kalau iya, maukah kamu menjalin hubungan lagi denganku”
Pertanyaan itu terulang lagi dalam hidupku, tapi kali ini aku tidak akan mengatakan yes, karena aku tidak akan membuat ayah kecewa lagi.
“Maaf, Ri. Aku tidak bisa”
“Kenapa, apa karena kamu telah berkekasih atau kamu tidak mencintaiku?”
“Bukan Ri, sebenarnya sejak kejadian iti aku sama sepertimu, hatiku telah tertambat padamu. Dan aku mencintaimu”
“Lantas, apa penyebabmu menolakku. Bukannya gelang itu masih kau kenakan?”
“Aku tidak mau mengecewakan ayahku untuk kedua kalinya dan aku juga tahu kalau pacaran itu dilarang”
Entah kenapa saat aku berkata seperti itu Arie menjadi tertawa geli.
“Kamu kenapa?” Tanyaku bingung
“Hahaha, maksudmu hubungan yang kumaksud pacaran?” Jawabmu
“I,iya kan. Memang hubunga apa?” tanyaku kembali
Aku bingung apa yang dimaksud Arie, sikapku jadi kikuk
“Hubungan selain pacar lah Nisa”
“Memang hubungan apa?” tanyaku yang belum paham apa maksud Arie
“Nis, will you marrie me?”
Subhanallah, ternyata hubungan ini yang ia maksud. Hatiku sungguh tersentuh mendengar ucapan itu.
“Yes, I will” jawabku singkat karena merasa terharu dan tak bisa berkata apa-apa.
Setelah itu, kami pergi kerumahku untuk menghadap ayah. Kemudian Arie berbincang bincang lama dengan ayah, entah apa yang mereka bicarakan. Yang kutahu hanya persetujuan ayah menerima lamaran arie, saat itu ibu memelukku sambil mengucapkan selamat.
***
(Lima bulan kemudian)
“Saya nikahkan Arie Saputra bin Sukardi dengan anak saya, Annisa Rahmawati bin Benny Sudipjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 20 gram dibayar tunai”
“Saya terima nikahnya Annisa rahmawati binti Benny sudipjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Bagaiman para saksi, sah sah”
“Saaah”
“Alhamdulillah”

Posted from WordPress for Android

Iklan

Gelang Merah – part 2

Esok harinya, saat aku bangun dari tidur. Seperti biasa aku sarapan dengan ibu dan ayah. Ketika itu suasan seakan beku. Ayah tak bicara sepatah kata pun padaku, dan ibu, juga terlihat tidak seperti biasanya. Hari esoknya pun demikian, hingga pada saat hari ketiga, ayah memanggilku dan menyuruhku untuk berbincang diruang tamu.
“Nisa”
“Iya, ada apa yah”
“Ayah mengizinkan kamu sekolah diumum”
“Apa, serius yah. Makasih ya yah” saat itu hatiku senang tak terkira, aku langsung memeluk ayah dan ibu. Hatiku berbunga bunga. Jiwa ini lepas, wajahku pun berubah jadi ceria.
Akhirnya hari yang ku impikan tiba, aku didaftatkan ayah masuk ke salah satu SMA negeri yang ada disamarinda. Hari pertama masuk disekolah itu, saat baru tiba digerbang sekolah. Aku merasa asing dengan keadaan disana. Kuperhatikan disekelilingku. Begitu mudahnya mereka bersosialisasi tanpa batasan antata pria dan wanita. Pakaian seragamnya pun begitu berbeda dengan sekolahku sebelumnya, sebab disana ada yang tidak memakai penutup kepala (hijab). Semua analisa itu kusimpan dalam hati saja dan pura pura mengabaikannya.
Beberapa bulan kemudian, aku mulai terbiasa dengan keadaan itu, aku juga sudah mempunyai banyak teman wanita dan beberapa teman pria yang tidak diketahui ayah. Sebab jika ayah tau, habislah aku.
“Nis kita jalan yok” kata Cindy, salah satu teman wanitaku
“Kemana?”
“Makan lah nis” kata  sarah, salah satu teman wanitaku juga
“Bareng? Sama cwo nya?”
“Iyalah nis” kata cindi menjawab.
Aku bingung harus jawab apa. Kalo aku ijin sama ayah untuk pulang agak telat pasti ayah akan tanya kenapa dan mau tidak mau aku harus berbohong tapi kalo aku tidak ikut mereka,  ah tapi aku kan pengen ikut mereka. Eh tapi bagaimana dengan ayah. Hatiku bergumam sendiri kala itu.
“Nis, bisa kan?”  Kata Farah, salah satu temanku juga
“Ah iya, bisa kok” keputusan spontan yang begitu cepat keluar dari mulitku.
Selanjutnya,sebelum bel sekolah berbunyi. Aku berusaha untuk menelpon ayah supaya tidak mmenjemputku dan terpaksa berbohong kalau aku kerja kelompok. Aku terpaksa melakukan itu agar ayah mengizinkanku pergi. Maafkan aku ayah.
Selama dua semester aku berbohong pada ayah dan beralibi kerja kelompok. Sampai ketika aku naik kelas dua Sma, ayah melihat rapotku, ia begitu senang karena nilai rapotku bagus-bagus semua, kata ayah kalau nilaiku bagus-bagus semua, ia akan menyekolanku dokter di Singapure, tempat tinggal kak Nadia dan suaminya, lagi lagi kemauan ayah
“Wah, nilaimu bagus bagus nis, pasti ini karena kamu giat kerja kelompok dengan teman temanmu” kata ayah bersemangat
“Ah, iiiya mungkin yah. Hehe” sahutku canggung. Bagaimana tidak, semua kerja kelompok itu kan hanya alibi supaya aku bisa jalan dengan teman-temanku bukan supaya peringkatku dan nilaiku bagus. Mungkin saja nilai dan peringkatku bagus karena faktor keberuntungan. Maafkan aku ayah
Ketika aku naik kelas dua SMA, ayah memberikan kepercayaannya padaku dengan tidak antar jemput aku lagi. Sungguh. Kebebasan yang dari dulu ku impi-impikan. Hari-hari berikutnya, aku lakoni berangkat naik bus dan pulang naik bus. Akhirrnya aku bisa merasakan duduk dikendaraan umum tanpa ayah disampingku. Suatu hari, saat menunggu bus dihalte sekolah, aku melihat kakak kelas yang sedang menuju halte bus dan dia duduk disampingku. Entah kenapa aku jadi salting, apalagi ketika kakak itu tersenyum dan menyapaku kemudian memulai obrolan singkat hingga bus datang menghampiri kami.
Lambat laun, kami menjadi semakin akrab. Setiap pagi, hanphone ku selalu bergetar karena pesan singkat yang berisi ucapan selamat pagi dariny. Hari-hariku kian bersemangat saat dia selalu berusaha menghiburku disaat ayah memarahiku. Dan setiap malam, kamu selalu menyampaikan ucapan selamat malam kepadaku, begitupun aku. Ternyata obrolan singkat itu mampu membuat kami merasakan getaran yang sama yang bisa disebut “cinta” . Dan saat itu, ia menyatakan cinta padaku.
“Nis, aku mau ngomong sesuatu nih.” Ucapmu dihalte, sambil menunggu bus datang.
“Ia kak, ngomong aja”
“Aku suka sama kamu nis”
Perkataan itu membuat hormon adrenalinku meningkat, jantungku berdegup cepat. Bagaimana tidak, sebab perkataan itu belum pernah kudengar sebelumnya.
“Aku tahu ayahmu tidak suka dengan kata pacaran, mungkin dia ada benarnya. Dan aku siap dengan resiko yang kuhadapi nantinya. Aku suka kamu, nis. Maukah kamu jadi pacarku?” Lanjut Arie menjelaskan.
Suasana itu jadi tegang, sebenarnya aku pengen pacaran sama arie, tapi dibenakku terlintas wajah ayah dan difikiranku, ah bukannya agama melarang pacaran. Tapi aku juga suka dengan Arie.
“Kak, aku pikir-pikir dulu ya, besok baru bisa kukasih jawabannya” jawabku pada Arie.
Malam hari setelah kejadian itu, aku tak bisa tidurku. Pikiranku berperang dengan pemikiranku sendiri. Besok, aku sudah harus mempunyai keputusan pasti. Antara “yes” atau “no”. Aku ingin yes, tapi ayah, aku sudah sering membohonginya. Tapi, ah mugkin saat itu aku dikalahkan dengan nasehat ayah.
Keesokan harinya, aku memberikan kepastian pada Arie.
“Kak”
“Ia nis, gimana keputusanmu”
“Emmm iiya kak”
“Iya apa”
“Ia, aku mau jadi pacar kakak”
Sejak saat itu, aku mulai mengerti apa itu pacaran dan bagaimana pacaran itu. Namun hal itu tak berlangsung beberapa lama. Pacaran diam-diam itu mulai terendus oleh ayah. Karena sikapku yang berubah, aku lebih sering berdiam m dikamar dan tidak lepas dari handphone. Saat aku tertidur dengan sengaja ayah mengecek hanphoneku. Dan tralala, semuanya terbongkar. Malam itu, aku langsung dibangunkan ayah. Ia marah besar, kecewa dan menyesal menuruti pilihanku untuk sekolah di SMA umum.
“Ayah kecewa sama kamu, ayah kira kamu bisa dipercaya. Ayah kira kamu sudah dewasa untuk memilih mana yang baik mana yang buruk. Ternyata ayah salah, berkali kali ayah bilang ke kamu, pacaran itu dosa, awal maksiat, pacaran itu salah, tapi kenapa kamu lakukan. Dan kamu, nisa. Telah membohongi ayah dengan beralasan kerja kelompok. Ternyata apa, kamu jalan dengan teman temanmu. Seperti itukah, nisa. Kamu menodai kepercayaan ayah.”
Sungguh. Disitu aku hanya terdiam dan menangis. Aku sangat menyesal dan merasa berasalah dengan apa yang aku perbuat. Ternyata bukan cuma ayah dan ibu yang kukecewakan, tapi Tuhan juga ikut kecewa. Aku sudah pasrah dengan hukuman yang akan ayah berikan padaku.
“Besok ayah akan urus surat pindahmu. Lebih baik kamu mondoj di Jawa. Kalo ini tidak ada tawar menawar lagi. Ayah betul betul kecewa.”
Yah. Mungkin itu hukuman bagi anak bandel sepertiku. Anak yang durhaka kepada orang tuanya, pembangkang, pembohong. Yah. Mungkin pilihan ayah yang terbaik buatku, mungkin dengan seperti ini ayah tidak marah lagi padaku.
Keesokan harinya ajudan ayah datang kesekolah dan mengurus surat pindah. Bisa dikatakan itu sekolah teerakhirku di SMA umum. Kesempatan itu ku manfaatkan untuk  mengucapkan kata perpisahan dengan Arie.
“Ri, sepertinya konsekuensi dari hubungan kita akan kita jalani. Ayah tahu semuanya.”
“Lalu, bagaimana?” Tanya Arie
“Ayah akan memindahkanku ke pondok sesuai dengan keinginannya, jadi, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”
“Begitukah”
“Yah”
“Dengan berat hati, aku menyanggupinya nis. Tapi, aku adalah orang yang sulit jatuh cinta. Hatiku kini sudah tertambat olehmu. Aku sanggup jika tidak berpacaran denganmu. Tapi untuk menghilangkan rasa ini, sepertinya aku tak sanggup. Besok, kamu sudah pergi. Aku akan memberimu sebuah gelang yang sama denganku, jika kamu masih mencintaiku pakailah gelang itu, jika kamu tidak cinta lagi. Kamu boleh membuang jauh-jauh gelang itu” Ujarnya menjelaskan padaku sambil menyodorkan gelang berwarna merah itu.
Dalam hati ini bergumam bahwa akupun demikian, sama sepertimu, hatiku sudah tertambat padamu, tapi perkataan itu hanya ada dalam hati, aku takut jika kukeluarkan akan membuatmu berharap lebih padaku.

(bersambung)

Posted from WordPress for Android

Gelang Merah – part 1

Gelang Merah

Aku dilahirkan ditengah keluarga religius, ayah dan ibuku begitu taat dengan agama. Mereka sangat mengutamakan agama disetiap kehidupanku dan ketiga kakak-kakakku. Jika dalam al-quran dan al-hadist berkata “tidak” mereka tak segan untuk menolaknya, misalnya saja dalam hal pacaran. Mereka sangat benci sekali, terutama ayahku. Ia sangat tidak suka dengan istilah pacaran, kata ayah pacaran itu tidak ada yang ada hanyalah ta’aruf. Sehingga ia tidak mengizinkan ketiga putrinya untuk pacaran, boro-boro pacaran, berteman dengan pria saja ayah sudah marah besar. Kata ayah itu tidak boleh “bukan muhrim” alasannya. Yaa, memang ayah seperti itu, diktator. Makanya kakak-kakakku tidak ada yang pacaran, lulus kuliah, kerja, dijodohin, taaruf, cocok, langsung deh merried. Tapi mereka juga memang anak yang penurut sih. Gak bandel macam aku hehehe.
Suatu hari, aku yang baru lulus dari sekolah menengah pertama negeri Islam atau yang terkenalnya MTS ingin melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.
“Nisa, bagaimana kalo lulus smp ini kamu mondok saja di Jawa seperti kakak-kakakmu yang lain”
“Apa? Mondok yah” sahutku kaget, aku memang berbeda dengan kakak-kakakku yang lain. Kata ayah aku anak yang bandel dan keras kepala. Aku juga bukan anak yang agamis seperti kakak-kakakku.
“Iya mondok, supaya kamu bisa lebih mengenal agama” lanjut ayah
“Gimana ya yah, kalo Nisa pengen sekolah disini aja gimana yah. Yaa di SMA umum gitu”
“Tidak, ayah tidak mengizinkanmu”
“Kenapa yah”
“Ayah tidak ingin kamu terjerumus pada pergaulan sekarang. Coba kamu lihat, degradasi moral pemuda saat ini. Parah nak, lebih baik kamu mondok saja, seperti kakak-kakakmu, coba lihat kakak-kakakmu sekarang, hidupnya enak, suaminya mapan dan soleh. Apa kamu tidak ingin seperti itu” penjelasan ayah itu membuat suasana menjadi tegang.
“Nisa gak begitu yah. Kenapa sih ayah terlalu over protektif sama Nisa. Dari kecil ayah gak pernah membiarkan Nisa untuk memilih pilihan Nisa sendiri. Ayah selalu diktator, toh kak Alif dan kak Nadia Smp nya dulu di umum yah.” Sahutku menjelaskan pada Ayah  dengan nada emosi.
“Ayah bukan bersikap seperti itu, ayah juga tidak menganggap sekolah umum itu tidak lebih baik dari pada pondok. Tapi ayah menyuruhmu mondok supaya kamu bisa mengenal agama lebih jauh, kalau kamu sekolah di SMA umum pelajaran yang kamu dapat dibatasi oleh jam belajar yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah” jelas ayah kepadaku.
“Tapi ayah, kumohon kali ini saja”
“Tidak, sekali tidak tetap tidak” mendengar kata ayah seperti itu aku langsung masuk kekamar dan meninggalkan ayah begitu saja. Saat itu aku merasa kesal dengan sikap ayah, ia begitu diktator. Memang sih baik sekolah di pondok, tapi kalo aku tidak mau. Apakah harus dipaksa? Aku kan ingin sekolah diumum, punya banyak teman dan belajar bersosialisasi. Aku capek, seperti waktu di MTS dulu aku diibilang aneh dengan teman temanku. Bagaimana tidak,berangkat sekolah selalu diantar ayah dan pulangnya selalu dijemput tepat waktu. Ketika ketahuan ayah kalo aku sedang bicara dengan teman pria, ayah langsung memarahiku dan teman priaku itu. Kata ayah itu dosa. Malam itu aku bergeming sendiri didalam kamar  tiba-tiba ada suara hangat dari balik pintu kamarku.
“Nak, buka nak” kata suara hangat. Yang aku bisa tebak pasti ibuku
“Masuk aja bu” lalu ibu membuka pintu kamar dan masuk menghampiriku kemudian duduk disampingku yang sedang berbarring diatas ranjang.
“Nisa marah sama ayah” tanya ibu sambil mengelus elus rambutku
“Endak bu. Cuma kesal aja”
“Kemauan ayah itu baik kok nis, dia cuma ingin membuat nisa lebih baik dan lebih taat sama agama, seperti ka nadia dengan kak alif” entah apa maksud ibuku berkata seperti itu, entah untuk mempengaruhiku agar nurut dengan kemauan ayah. Atau hanya menyimpulkan maksud ayah tadi.
“Tapi bu, please untuk kali ini saja. Aku ingin merasa sekolah diumum. Aku gak akan macem macem kok bu. Aku bisa jaga diri” jelasku pada ibu. Sambil menatap mata ibu dalam dalam.
Mendengar kalimat itu, ibu hanya tersenyum sembari mengecup keningku dan menyuruhku untuk lekas tidur.

***
(bersambung)

Posted from WordPress for Android

yap yap yap

mungkin aku masih beruntung kali yaa gak punya sindrom pinochio kayak di drama kore itu. coba kalo punya, gak kebayang gimana rasanya nggak bisa nutupin sesuatu dan selalu ketahuan kalo lagi bohong.

ya tapiii, walaupun aku nggak punya sindrom pinochio tetep aja kalo bohong itu rasanya nggak nyaman banget dan bisa buat aku nggak enak hati seharian. makanya selama ini aku selalu bilang apa adanya kalo ditanya tentang sesuatu sama orang-orang. tapi meski begitu, aku masih bisa menutupi sesuatu dari pertanyaan orang-orang yang nggak mungkin kujawab dengan jujur. dan toh pertanyaan mereka nggak bisa kujawab, paling aku cuma bisa senyum, masang muka cemberut dan kadang cuma bisa diem aja.

tapi perasaanku yang gelisah kalo berkata bohong ini nyiksa banget kalo aku lagi jatuh cinta, apalagi jatuh cinta sama orang yang nggak dikehendaki. yaitu si cuek kejam yang dulu pernah kuceritain. jujur perasaan gelisah ini bikin aku nggak bisa tidur bahkan sering sakit karenanya. karena jatuh cinta sama dia aku jadi sering bilang nggak mau dalam hati sendiri dan meyakinkan diri sendiri kalo aku nggak suka sama dia. tapi semuanya tambah bikin aku nggak bisa tidur, gelisah dan jadi aneh kayak orang kehilangan tujuan hidup. apalagi kalo aku liat dia deket sama salah satu cewek yang bisa dibilang suka dia gangguin. aku jadi kayak cemburu gitu, yah meskipun aku nggak menghendaki hal itu. tapi waktu itu hatiku jadi gelisah, disekolah aku jadi kayak orang yang aneh. aku jadi sering menyendiri dan megangin kepala sambil bilanga “please, hilang dong dari kepalaku” dan sambil megang hati dada tepatnya dijantung dan memerintahkan supaya jangan berdegup terlalu cepat. aku jadi seperti orang gila

beberapa temanku mungkin menyadari hal itu, dan mereka menanyakan hal itu kepadaku. aku bingung harus menjawab apa, yang kubisa cuma masang wajah cemberut kalo mereka tanya gitu kadang aku cuma ketawa aja. habis kalo aku jujur sama aja aku bunuh diri tapi kalo aku bohong, bakalan gelisah seharian aku.

Posted from WordPress for Android

Bisakah Dia Pergi

pada akhirnya aku nggak bisa bohongin diriku sendiri. niat awalnya mau nulis sesuatu diluar dari segala pikiran tentang kamu, tapi lama-kelamaan pikiran tentang kamu kembali diotakku. beberapa aku coba buat paragraf dalam berbagai tema tapi ujung-ujungnya malah jadi nggak karuan dan nggak nyambung, akhirnya paragrafnya gak jadi sama sekali.

sebel sih, tapi mau gimana lagi. perasaan ini ke dia begitu kuat, padahal aku sudah nyoba buat ngelupainnya. tapi semakin coba dilupain eh malah semakin kuat perasaannya. dan nggak tau kenapa, rasanya otak ini terus memerintahkan untuk memikirkannya dan menulis segala tentangnya.

aku pengen teriak sekencang mungkin supaya perasan ini ke dia bisa hilang. aku letih menyimpan perasaan ini, jujur aja menyimpan perasaan ke dia itu rasanya kayak menyimpan sejuta kebenaran yang kalo nggak diungkapin bikin nyesek di hati aja. apalagi aku menyimpannya sendiri, tanpa ada orang yang tahu bahkan teman dekatku pun nggak tau. walaupun sebenarnya aku kepengen cerita ke mereka  tapi sampe sekarang aku masih malu untuk mengaku kalau aku suka sama  …………

ya ampun!!! kenapa sih perasaan serumit ini. oke jujur, aku memang ada rasa ke dia. tapi rasa ini aneh menurutku. soalnya perasaan ini bukan rasa cinta yang tujuannya untuk memilikinya. tapi, tapi,… arrrggghhhh aku sendiri nggak bisa mendeskripsikannya. jantungku selalu berdebar saat didekatnya, ketika dia cuek aku selalu berharap kalo dia cuek bukan karena dia marah sama aku, aku selalu pengen dia ada didekatku. tapi aku nggak memikirkan untuk ingin jadi pacarnya. ppppfffftttt aku muag dengan perasaan ini

Posted from WordPress for Android

Si Cuek Kejam

barusan nonton drama korea yang judulnya pinochio. drama nya bagus sih, romance comedy gitu dan bikin baper.

BAPERRR, sampe-sampe ni malem aku keinget sama temen SMA ku dulu yang cuek dan bisa dibilang kejam sama aku. dia sering bikin aku terlihat bodoh di depan teman-temanku sendiri, kerjanya buat aku nangis sambil ngebully aku pake kata-kata alay, dia juga sering bikin aku ngerasa bersalah sama dia sampe-sampe aku berusaha untuk minta maaf ke dia (maklum lah, aku memang orang yang polos dan takut kalo orang marah sama aku).

Dulu dia pernah bikin aku ngerasa bersalah sampe aku nangis dengan penuh sesal ke dia, kalo gak salah itu karena pas kita lagi becandaan tiba-tiba dia langsung cuek gitu gara-gara mungkin aku becandanya kelewatan. waktu itu aku langsung minta maaf ke dia, tapi permintaan maaf itu ditolak mentah-mentah sama dia, dan dia. .. langsung pergi gitua aja sama temennya. aku takut kalo dia marah beneran ke aku, soalnya hari-hari berikutnya dia gak ada keliatan, gak ada negur aku lagi. jadi, aku memutuskan untuk tanya ke sahabatnya kalo dia beneran marah apa enggak. terus sahabatnua ngerespon, tapi bukannya dikasih solusi malahan dia bikin aku tambah ngerasa bersalah dan bingung. aku bingung harus gimana, harus minta maaf kayak apa.

untunglah waktu itu ada sebuah kegiatan yang mengharuskan aku berada di kelasnya. aku duduk disalah satu bangku dan kondisi meja yang lacinya penuh dengan sampah. nggak tau kenapa hari itu aku mendadak baik, jadi kubersihkan sampah-sampah di laci itu. waktu aku ngebersihin, tiba-tiba aku liat beberapa buku tulis yang tertinggal di laci meja itu. agak ngedumel sih, soalnya aku nggak suka kalo buku ditinggalin di laci gitu aja apalagi disatuin sama sampah. terus buku itu aku buka, ternyata itu punya temenku yang cuek dan kejam itu. terbesit sebuah ide lewat buku itu. ketika kegiatan di kelasnya itu selesai, aku nunggu semua orang keluar dari kelasnya dan menulis permintaan maaf yang tulus dibuku tulis itu.

besoknya, dengan wajah yang agak lega aku datengin temennya si cuek dan kejam itu. aku bilang ke dia kalo aku sudah minta maaf sama si cuek dan kejam itu lewat tulisan yang aku tulis dibukunya. tapi dia bilang kalo si cuel dan kejam itu sudah ngebuang tulisan itu, dia ngerobek robek tulisan permintaan maafku dan membuangnya ketempat sampah. disitu aku nangis, seharian disekolah aku cuma bisa nangis dan nggak fokus sama pelajaran. sampe ketika pulang sekolah, aku masih sedih yaa walaupun sudah nggak nangis lagi.

hari itu aku pulang agak telat karena harus piket di kelas dulu. tiba-tiba aku liat dari kejauhan sicuek dan kejam itu dan aku langsung teringat sama kata-kata temannya tadi pagi, terus aku nangis lagi. si cuek dan kejam itu lama-lama mendekat dan lewat didepan kelasku tanpa memperhatikan aku. dengan air mata yang masih berlinang di pipi, aku langsung narik tasnya dari belakang, dia kaget dan tanya kenapa. disitu aku langsung ngeluapin semua kekesalanku sama dia, aku bilang
“kamu tu jahat tau nggak. aku tu udah minta maaf beberapa kali sama kamu tapi nggak kamu maafin. sebesar apa sih salahku sama kamu. kamu tu nyebelin” kataku sambil terisak. dan dia cuma senyum dan ninggalin aku gitu aja sambil bilang kalo air mataku air mata buaya.

besoknya, dia lewat depan kelasku sama temannya. jujur, aku malu waktu itu sama dia karena kejadian kemaren jadi waktu ada dia aku cuma tunduk sambil pura-pura main hp. tapi tanpa diduga, dia dan temannya stop didepan kelasku dan seperti biasa.. menebar kekejaman ke aku.

yaa memang sih ceritanya nggak kayak pinochio gitu,  tapi nggak tau kenapa kalo aku liat si dal po itu mirip banget sama temenku yang cuek dan kejam itu. kayak si dal po yang selalu menyebalkan ke In ha di awal episode nya. yah, pokoknya temenku itu paling nyebelin deh disekolah, lebih nyebelin dari pada Dal po. yaa walaupun sampe sekarang aku masih yakin kalo sebenernya dia itu orang baik.

Pilophobia – 2

Hampir seminggu gue dan Tyas gak ada teguran. Walaupun sebenernya gue udah maafin dia, tapi tetep aja rasanya males banget kalo harus minta maaf duluan. Tapi untunglah dia sahabat yang baik  yang tau gimana caranya ngadepin gue kalo lagi marah.
Tepat seminggu kami gak teguran, dia nyapa gue lewat line “Ran” sapaannya di line. Sapaan itu adalah sebuah moment yang paling gue tunggu, soalnya gue tipe orang yang gengsi untuk minta maaf tapi mengharap orang minta maaf duluan. Sapaan itu gue balas dengan sok cuek “iya. Apa?” Kurang lebih 5 menit gue nunggu balesan dan Tyas membalasnya dengan ucapan maaf yang tulus. Sebagai permintaan maafnya, dia ngajak gue kesebuah toko buku dan katanya mau nraktir komik sepuasnya.
Sore itu kami ke toko buku, sebenernya sih gue juga gak tega ngerjain dia kayak gini. Tapi, itu sudah jadi kebiasaan dari kecil sih. Menurut gue, Tyas itu udah kayak kakak sendiri. Dari kecil dia selalu ngilndungin gue dan ngalah kalau gue minta mainannya, dia selalu dewasa ngadepin semua permasalahan gue maupun dirinya sendiri. Makanya gue salut banget sama dia.
Sampai di toko buku, kita langsung masuk ke bagian komik dan gue, langsung tertuju pada tumpukan komik conan.
“Hmmm Yas, loe mau nraktir gue berapa komik?” Tanya gue sambil memilah-milah komik di rak itu
“Terserah loe deh” katanya pasrah
“Serius?!” Tanya gue terkejut
“Iya!” Jawabnya singkat
Gue cuma senyum-senyum aja sambil milah-milah komik, sementara Tyas pergi ninggalin gue ke rak buku bagian novel. Lagi asyik milah-milah buku, tiba-tiba
Gubbbbrrraaaakkkk!!!!!
“Aduh” kata gue kesakitan
“Aduh, maaf ya mbak. Maaf. Saya gak liat” kata seseorang yang nabrak gue tadi
“Aduh, sakit banget!” Kata gue ngeluh kesakitan sambil megang kaki gue
Gimana gak sakit coba, cowok itu nabrak gue sambil ngebawa setumpuk buku paket kelas 6 Sd yang semua nya ngejatohin kaki gue dan tangan gue!! tangan gue kena injek dia. Loe bisa bayangin kan sakit nya gimana
“Aduh, maaf mbak. Maaf” dia minta maaf lagi dan nyimpunin buku-bukunya yang berserakan di sekitar kaki gue.
Gue masih ngeluh kesakitan, tiba-tiba Tyas dateng
“Ada apa ini?” Tanyanya entah sama siapa
“loe kenapa Ran?” Tanyanya ke gue
“Pasti gara-gara cowok ini ya. Mas kalo jalan pake mata dong, jangan pake dengkul. Coba liat ni temen saya, kesakitan kan. Kakinya pernah patah lo mas. Pokoknya kalo sampai terjadi sesuatu, saya akan tuntut Mas” sambung Tyas emosi.
“Apaan sih Yas, udah gak papa kok. Paling juga memar aja” gue coba menyelaraskan amarah Tyas
“Oke, sekali lagi saya minta maaf. Dan saya akam bertanggung jawab. Saya bayar buku-buku ini dulu, habis itu saya akan bawa embak ini ke rumah sakit. Tunggu disini” cowok itu membawa buku-bukunya ke kasir dan kemudian bawa gue ke rumah sakit pake mobilnya.
Setelah tiba dirumah sakit, dokter meriksa kaki gue dan alhamdulillah nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, sedikit tergores dan memar karena dijatuhi setumpuk buku tadi. Jadi, dokter cuma ngasih obat merah ke luka nya dan salep untuk memarnya yang bisa ditebus diapotek.
Selesai berobat, si cowok itu ngenalin dirinya ke gue
“Oiya, nama loe siapa?” Tanya nya ke gue yang masih susah jalan dan harus dibantu dengan tongkat
“Gue Rani, dan ini temen gue Tyas. Nama loe siapa?”
“Gue Arie. Oiya Ran, gue minta nomor handpone loe ya” pinta Arie
“Buat apa?” Tanya gue
“Untuk ngontrol loe sampe sembuh aja sih.”
“Oh, boleh”
Disitu, gue ngasih nomor handphone ke dia, begitupun dia. Kemudian, Arie ngantar gue dan Tyas ke toko buku tadi. Soalnya kendaraan kami diparkirkan disitu.
“Loe bisa nggak naik motor? Kaki loe kan masih sakit” tanya Arie
“Bisa kok” jawab gue
Mungkin kata-kata gue sudah meyakinkan dia untuk tidak mengawatirkan gue. Dan Arie pun berpamitan pulang mengakhrii pertemuan kami hari itu
***
Dua hari telah berlalu, kaki gue jiga sudah sangat baik kondisinya. Waktu itu, hari sudah malam dan gue ingin beranjak tidur untuk memulihkan energi yang hilang. Dikamar, gue sudah menutup mata dan memulai khayalan supaya bida lekas tidur. Tapi khayalan itu sempat terhenti karena ada seseorang yang menelpon, ternyata Arie.
“Halo, assalamualaikum” sapa gue dihanphone
“Waalaikumsalam. Hmmm gimana kaki loe?” Tanya Arie
“Alhamdulillah sudah sembuh kkk’
“Syukurlah kalau begitu. Maaf ya kemaren sudah bikin kaki loe sakit” Arie meminta maaf kembali
“Santai aja lagi, gak papa kok”
“Loe yakin udah sembuh?” Tanyanya
“Iya, yakin”
“Beneran nih, soalnya gue belum terlalu percaya”
“Yaelah, beneran kok”
“Hmmm, gimana untuk membuktikannya kita ketemuan di cafe trans besok sore?” Tanya Arie
“Besok? Cafe trans?” Gue jawab gagu
“Iya, bisakan?”
“Kuusahain deh, tapi gak janji ya”
“Iya”
Keesokan harinya, gue ceritain masalah ini ke Tyas. Katanya sih gak papa kalo gue mau ketemuan sama si Arie, asal dia juga ikut. Kan lumayan bisa makan gratis, begitu katanya. Jadi sore hari kami datang ke cafe trans, ternyata dia sudah nunggu duluan. Sampe sana bukannya kaki gue yang diperhatiin malah dia ngajak gue dan Tyas ngobrol ngalor ngidul. Tapi its okelah gak papa.
***
Perkenalan di cafe trans kemarin membuat gue dan Arie semakin akrab, ternyata cowok yang kuliah di jurusan HI itu cukup baik, ramah, peduli dan dewasa.
Dua bulan terakhir ini dia telah masuk ke kehidupan gue. Kebaikan dan keramahan Arie mampu menobatkannya sebgai teman baik bagi gue. Tyas juga gak ngelarang gue untuk berteman dengan Arie.
Tapi, pertemanan yang baik itu telah berakhir saat Arie nembak gue. Waktu itu, dia ngajak gue dan Tyas ke toko buku tepat dimana kita pertama kali bertemu. Alibinya sih mau nraktir komik, tapi gak taunya pas gue milah-milah komik dia nyamperin dengan seikat bunga sambil berkata “Ran, I love you. Just the way you are”. Gue kaget denger kata itu. Sebgai penyandang filophobia, kecemasan mulai melanda diri gue, muka gue berubah jadi pucat dan keringat dingin perlahan muncul dari kulit gue. Tanpa berkata apa-apa, gue lari ninggalin Arie gitu aja dan memilih pulang kerumah.
Malam harinya, Tyas kerumah gue. Karna dia khawatir dengan keadaan gue
“Gimana keadaan loe?” Tanyanya
“Yaa gini deh, masih agak pusing’
“Ran, mau sampe kapan loe turutin penyakit loe. Arie itu cowok baik lo. Masa loe gak bisa sih beri kesempatan dia” kata Rani mrmbujuk gue
“Gue bukannya gak mau ngasih kesempatan. jujur aja, akhir-akhir ini jantung gue sering berdegup cepat kalo jalan sama dia. Seperti jatuh cinta rasanya, tapi perasaan itu bisa gue tahan. Cuma pas dia nyatain cinta tadi, rasanya sulit bagi gue untuk berkata Ya. Gak tau kenapa, gue keingetan sama masa lalu gue dulu.” Jelas gue sambil menangis
“Ran, kali ini aja. Coba loe lawan rasa itu, kasih kesempatan buat Arie. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, pasrahkan aja semua sama yang diatas”
“Loe enak tinggal ngomong, sekarang aja rasanya gue takut kalo ngeliat Arie. Gue pengen menghindar sejauh mungkin dsri dia. Gue takut, gue takut jatuh cinta dan pacaran sama dia. Gue gak bisa Yas” jelas gue lagi yang mulai menitikkan air mata
“Loe pasti bisa Ran. Percaya sama gue” Tyas meyakinkan gue
“Gue gak akan bisa Yas”
“Rani!” Kata Tyas sambil memegang pundakku dan menatap dalam-dalam bola mataku “percaya gue, loe pasti bisa”
“Cukup Yas!” Jawab gue melepaskan tangan Tyas dari pundak gue “loe itu enak, tinggal ngomong aja, sementara gue. Gue yang ngejalaninnya. Loe enak, punya pacar yang dari dulu sudah setia walaupun kalian berjauhan. Beda ama gue yang selalu disakitin.” Jelas gue penuh emosi
“Tapi Ran…”
“Udah deh, mending sekarang loe pulang dan urus diri loe sendiri. Gue lagi pengen sendiri” potong gue.
Dengan berat hati, Tyas meninggalkan kamar gue dan bergegas untuk pulang.
***
Di lain hari, ternyata Arie ngajak Tyas ketemuan disebuah cafe. Mereka berdua membicarakan tentang sikap Rani di Toko buku kemarin
“Yas, gue mau nanya dong” Arie memulai pembicaraan
“Nanya Rani?” Tanya Tyas yang sepertinya sudah bisa menerka pertanyaan yang akan diberikan Arie
“Iya, soalnya sikapnya di toko buku kemaren aneh banget. Apa karena gue ini jelek ya? Atau dia gak suka sama gue? Tapi kan selama ini gue udah yakinkan ke dia kalo gue ini orang yang pantas untuk dia sukaix jelas Arie
“Dari permasalahan itu, cuma satu kata. Pilophobia” jawab Tyas singkat
“Piilophobia?!” Tanya Arie penasaran
“Iya,. pilophobia” kata Tyas yang setelah selesai bicara meneguk green tea nya “penyakit dimana orang takut untuk jatuh cinta dan berkomitmen pada sebuah hubungan” sambungnya lagi
“Maksud loe, dia takut pacaran?” Tanya Arie masih penasaran
“Bisa dibilang begitu” jawab Tyas
Arie tak menyangka kalau Rani menderita penyakit aneh itu, ia kira penyakit itu hanyalah cerita dongeng disinetron-sinetron saja. ternyata tidak, bahkan penyakit itu menimpa orang yang ia sukai
“Jadi, kalo loe beneran suka sama Rani. Loe harus bisa berjuang buat dapetin hatinya. Tapi kalo loe gak serius, mending loe tinggalin dia” Tegas Tyas
“Gue sayang Yas sama dia, gue cinta sama dia.” Sahut Arie bernada serius
“Kalo loe beneran sayang, loe perjuangin cinta loe ke Rani”
“Pasti Yas”
Percakapan itu membawa Arie pada suatu babak baru dalam cinta yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Sebab, dalam perjalanan cintanya belum permah ia se serius ini untuk memperjuangkan cintanya.
***
Hari itu gue disuruh mama ke apotek buat nebus obatnya nenek. Karena masalah kemaren, gue belum teguran sama Rani jadi terpaksa keapotek sendirian. Sampai disana, gue kasih resep dokter itu ke petugas apoteknya, dan petuhasnya pun memberikan gue obat yang tertera di resep itu. Sampai disini semua berjalan dengan semestinya
Habis dari apotek, gue pulang membawa obat tersebut sambil berjalan pemberentian taksi menuju rumah gue. Tapi, dalam perjalanannya gue berpapasan dengan Arie. Disitu gue langsung takut dan bergegas lari. Tapi, ketika ingin lari tangan gue dipegangnya “Ran, please kasih gue kesempatan ngomong” katanya. Ketakutan gue memuncak saat tangan Arie menggenggam tangan gue “Ri, lepasin tangan gue” kata gue
” gak akan sebelum loe kasih kesempatan gue buat ngomong”
“Kalo loe gak mau lepasin, gue bakal teriak copet. Coppettt…. copet… coooppet….”
Arie yang ketakukan melepaskan tangan gue dan dia berlari karena banyak orang yang mengejarnya. Entah apa yang terjadi saat itu, gue gak tau. Soalnya gue langsung lari ketakutan ninggalin Arie.
Selang beberapa hari dalam keadaan yang masih ketakutan, Tyas dateng kerumah gue.
“Tante, ada Rani gak?” Tanya Tyas ke Mama gue
“Ada tuh dikamar. Bujuki gi biar keluar, dari dua hari yang lalu dia gak ada keluar kamar. Kuliah aja dia nggak masuk loo. Coba kamu bujuki dia” jawab sekaligus pinta nyokap gue
Kali itu Tyas nggak dateng sendirian, ada Arie yang ikut kerumah gue.
Setelah nyokap ngomong begitu, dia langsung pergi ke arisan temen-temen kerjanya. Jadi dirumah cuma ada gue, Tyas, Arie, nenek gue, dan dua orang asisten rumah tangga.
Didepan pintu kamar gue, Tyas mencoba membujuk gue untuk keluar dari kamar.
“Ran, buka dong. Ini gue sama Arie dateng” pintanya sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar gue
Mendengar kata Arie, gue jadi ketakutan sangat. Kecemasan yang berlebihan kini menylimuti pikiran gue, keringat dingin mulai keluar. Rasanya, gue seperti orang yang depresi
“Arie?!” Gumam gue
“Ran, buka dong. Ini gue, Arie” kini Arie yang meminta
Dengan rasa ketakutan, gue coba memberanikan diri untuk bicara walaupun hanya dari dalam kamar
“Mau apa lo kemari Ri?” Tanya gue terisak
“Gue kesini karena gue sayang sama loe” jawabnya gamblang
Perkataan itu cukup membuat gue menangis lebih kencang
“Riii… please. Gue mohon sama loe, stop buat mencintai gue. Semua rasa cinta cukup membuat gue sakit. Gue suka sama loe, tapi  tapi, gue gak bisa berkomitmen untuk menjadi pasangan loe. Gue gak bisa” jelas gue yang masih terisak
“Loe gak perlu khawatir. Gue bakalan bisa bikin loe gak takut lagi buat jatuh cinta sama gue”
“Nggak bisa Ri. Gue yakin. Lebih baik loe cari perempuan lain aja yang bisa berkomiten sama loe. Bukan kayak gue ini. Mending sekarang kalian pulang, percuma kalian ngebujuk gue, gue gak akan bisa” jelas gue
“Loe itu bukan gak bisa. Tapi gak mau usaha. Percuma punya sahabat kayak loe, udah dibantu gak mau usaha” suara itu terdengar ketus dari bibir Tyas
“Yok, mending kita pulang Ri” sambungnya.
Tyas dan Arie pergi ninggalin gue.
Kini, gue lebih menutup diri dari dunia luar. Gue jadi gak pernah lagi jalan bareng sama Tyas atau sendirian baik beli buku maupun beli baju. Sekarang, sehabis kuliah gue langsung pulang kerumah. Dikampus pun gue gak pernah teguran sama Tyas lagi.
Dan Arie, dia selalu melakukan usahanya agar gue gak takut jatih cinta sama dia. Berpuluh-puluh bunga, cokelat dan puisi dikirim kerumah gue. Kerumah gue, ngajak ketemuan, dan dia pernah berdiri didepan pager rumah gue sampe kehujanan beruntung ada nyokap gue yang liat dan dia dibawa masuk kerumah gue. Dan yang  terakhir, dia pernah memainkan gitar sambil bernyanyi lagu sempurna milik andra & the backbone. Tapi semuanya sia-sia, gue tetep takut untuk ketemu dia dan jatuh cinta sama dia. Sebenernya nyokap juga marah sama gue gara-gara sikap gue. Tapi dia juga gak mau nyalahin karena pilophobia gue
***
Beberapa pekan telah terlewati, bunga, coklat, puisi. Sepertinya tak dikirim lagi kerumah. Persahanatn yang sempat putus pun kini tersambung kembali. Nama Arie terasa menghilang entah kemana, meski ceritanya masih teringat diotak.
Sebagai mahasiswa yang baru rampung menyelesaikan urusan skripsinya, gue dan Tyas akan mempersiapkan diri untuk wisuda. Kami pun mulai merancang kebaya dan mencari salon agar terlihat cantik saat wisuda nanti.
Sibuk memang, makanya saat ada waktu senggang Tyas ngajak gue ke cafe dipinggiran jalan sudirman. Katanya, dia mau nraktir sekaligus ada info yang mau dikasih tau gue.
Rada heran sih memang, karena gak biasanya Tyas gak jemput gue kalo ke cafe begituan. Tapi yasudahlah, gue bisa naik taksi aja deh.
Diperjalanan, Tyas selalu bm gue  dia tanya gue sudah sampe mana. Rasanya gak kayak biasanya, kayak ada yanga aneh. Tapi yasudahkah, gue coba hindari prasangka itu
Sesampainya disana, tugas gue tinggal nyari mejanya Tyas. Gue perhatikan sekeliling dan alhamdulillah ketemu, tapi ketika gue jalan semakin dekat, ada seorang lelaki yang duduk disebelah Tyas. Kuperhatikan ternyata itu Arie, gak tau kenapa rasa ketakutan dan trauma yang dulu-dulu muncul kembali saat kutatap wajahnya. Jadi, gue langsung lari meninggalkan cafe itu.
Tapi sebelum sempat meninggalkan cafe itu, Arie menahan gue
“Ran, tunggu” katanya
Gue yang udah terlanjur lari setengah jalan mendadak berhenti tanpa berbalik kearah Arie lagi.
“Gue gak akan tanya kenapa loe langsung lari liat gue. Gue juga gak akan maksa loe buat berkomitmen sama gue. Sekarang seterah loe mau gimana. Yang gue mau cuma satu, loe bahagia walaupun bukan sama gue” jelasnya
Semua pengunjung cafe itu melihat kearah gue. Air mata tak bisa dibendung lagi, tapi otak, terus memerintahkan kaki untuk berlari hingga keluar dari cafe. Arie yang entah kenapa, mengejar gue yang berlari sambil menangis. Pikir gue saat itu cuma satu, menghindr dari Arie. Gue terus berlari menyusuri trotoar jalan. Dan terpikir untuk menyebrang di lalu lintas yang ramai agar menghambat Arie. Gue menyebrang dengan selamat, sementara Arie tergopoh menghadang lalu lintas saat menyebrang. Hingga terdengar suara
“Braaakkkkkk!!!!”
Seketika kerumunan orang memenuhi jalan tersebut, gue takit dan langsung berbalik arah unyuk melihat apa yang terjadi. Ternyata dugaan gue bener, Arie tertabgrak dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Sampainya dirumah sakit, ia langsung dibawa ke UGD untuk diperiksa. Sementara itu, gue dan Tyas menunggu dalam kecemasan.
Di kursi tunggu, gue duduk sambil terus menangis. Tyas sibuk menelpon sanak keluarga Arie dan setelah itu, Tyas marah-marah ke gue
“Tuh, loe liat sendiri kan perjuangannya. Dan sekarang loe mau apa?! Tetep egois sama trauma loe itu?!” Tanyanya emlsi
Gue gak bisa ngomong apa-apa selain isak tangis yang menderu
“Sekarang terserah loe mau apa. Intinya, gue udah berusaha nolong loe, nasehatin loe, dan selalu berusahan nyembuhin loe. Toh semuanya gagal kan”
Kali ini gue masih terisak
Beberapa jam kami menunggu, mama nya pun sudah datang. Kali ini Arie harus dipindahkan keruang oprasi karena kaki kiri dan tangan kanannya patah. Operasi berjalan lancar dan dia sudah bisa dipindahkan ke ruang perawaran, yaa walaupun dalam keadaan masih tertidur karena pengaruh ibat bius.
Didalam ruang perawatan itu, mamanya menunggu dengan kasih sayang, sebentar-sebentar rambut Arie dibelai dengan penuh kehangatan. Gue yang cuma bisa ngintip dari daun pintu memberanikan masuk ke ruang itu dan duduk disamping Mama nya Arie sambil merapati wajah kaki dan tangan Arie yang terbungkus perban
“Sebelumnya dia nggak pernah segigih ini untuk mendapatkan cinta wanita” kata Mamanya Arie memulai pembicaraan walaupun pandangannya masih kearah Arie
“Mmmmaaksud Tante?!” Tanya gue
“Arie itu anak yang tulus dan bertanggung jawab. Kasih sayangnya terhadap Tante dan Adiknya begitu tulus. Termasuk kasih sayangnya terhadapmu” jelasnya
“Dia sudah cerita semua tentangmu, Ran. Kalau kamu mau tau, dia sangat sayang dan mencintaimu. Dia bilang, gak peduli apa dan bagaimana rintangan untuk mendapatkanmu, dia akan lalui semua. Perkataan itu yang selalu diucapkannya saat curhat sa Tante” sambung Tante Mer (panggilan untuk mamanya Arie”
Gue sangat merasa bersalah mendengar penjelasan Tante Mer tadi. Rasanya, gue terlalu egois dan mengikuti sugesti dan pikiran negatif dari diri gue. Dan gue cuma punya satu doa saat itu, jika Fuhan masih memberi kesempatan, bisakah gue membalas perjuangan Arie.
Tiba-tiba Arie terbangun, dengan keadaan yang masih lemas ia berkata kepada Tante Mer
“Ma, bisa tinggalkan kami berdua?” Pinta Arie
Tante Mer pun pergi, diruang itu hanya tinggal kami berdua
“Kamu kenapa nangis?” Tanya Arie yang suaranya sangat pelan
Pertanyaan itu membuat gue tambah menangis
“Aku gak papa Ran, cuma luka dikit aja” hibur Arie
“:'(:'(:'(:'( gue udah bikin loe susah, gue udah bikin loe sakit. Gue, gue, gue minta maaf” jawab gue penuh salah
“Gak ada yang perlu dimaafkan, Ran” hiburnya
“Tapi Ri, apa loe masih ngasih kesempatan buat gue?”
“Pasti, bagi gue ini perjuangan buat dapetin loe yang gue yakin adalah cinta terakhir gue”
“Tapi gimana sama trauma gue?”
“Apa loe mau, berkomitmen sama gue?” Tanyanya
Jawaban gue hanya nangguk ngangguk
“Kalo gitu, loe pasti bisa. Asalkan kita sama-sama berjuang”
“Iya, gue bisa. dan gue akan berusaha bisa”
~Ending~

Posted from WordPress for Android