Gelang Merah – part 3

(Beberapa bulan kemudian)
Saat ini aku sudah menjadi anak pondok yang soleha seperti keinginan ayah. Disini aku banyak memetik ilmu, aku menjadi tahu kenapa ayah begitu keras melarangku untuk pacaran dan tidak berteman dengan pria. Iya, ayah benar. Segala nasehat ayah dulu benar. Nisa yang salah. Maaf ayah, ibu. nisa telah membuat kalian kecewa. Disini nisa akan belajar agama dengan sebaik mungkin, sehingga saat keluar pondok nanti nisa sudah bisa memilih yang mana benar dan yang mana salah. Nisa janji itu yah, bu.
Setelah  lulus dipondok pesantren itu. Ayah menyekolahkanku ke universitas di Singapure dengan jurusan kedokteran. Ada beberapa hal yang kuingat disana tentang tanah kelahiranku, pertama Ayah dan Ibu, kedua Kak Nadia dan yang terakhir, Arie. Sungguh, aku tidak bisa melupakannya. Gelang merah pemberiannya masih menempel dipergelangan tanganku, aku, masih mencintainya.
Setelah aku berhasil memperoleh gelar dokter, aku bekerja disebuah rumah sakit di Samarinda dengan profesi sebagai dokter anastesi. Saat itu, ketika aku pulang tugas. Sekitar pukul 23.00 WITA aku bergegas keparkiran untuk mengambil mobilku, diperjalanan menuju parkiran aku melihat seorang dokter pria dari kejauhan. Samar-samar, geraknya mengingatkanku pada seseorang dan entah mengapa jantungku berdegup dengan kencang, aku tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Pria itu perlahan semakin mendekat dan wajahnya semakin jelas .
“Nisa”
“Arie” ucap kami bersama dengan kaget
Tak kusangka, ternyata itu Arie. Pria yang membuatku jatuh hati di SMA dulu sampai saat ini. Saat itu kami salah tingkah dan entah karena letih atau bingung mau berkata apa, aku hanya tersenyum dan melanjutkan keparkiran mengambil mobilku.
Esoknya, aku tahu kalau dia adalah seorang dokter baru dibidang syaraf. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang masih menyimpan rasa padanya yang sampai sekarang tak bisa kuhilangkan dan gelang itu, masih kukenakan. Siang harinya karena aku tidak ada pasien, jadi aku memutuskan untuk makan dikantin rumah sakit. Saat aku makan, tiba-tiba seseorang yang kutemui tadi malam menghampiriku lagi dan duduk satu meja denganku.
“Nis, aku duduk sini ya”
“Oh, iya silahkan”
Awalnya ia hanya basa basi menanyakan kehidupanku setelah pindah sekolah hingga ia menyinggung tentang hubungan yang pernah terjalin diantata kami.
“Nis, kamu masih ingat nggak. Aku ini siapa dimasa SMA mu”
“Ah ingat” jawabku kaget, mataku tertuju pada pergelangan tangan kanannya. Dimana terpadat gelang yang sama denganku.
“Nis, gelang itu?” Tanyanya kaget, karena melihat gelang yang melingkar dipergelanganku.
“Apa itu artinya, kamu masih mencintaiku?” Lanjutmu
Aku bingung harus berkat apa, aku harap gelang merah itu sudah mewakikan perasaanku padamu.
“Melihat gelang merah itu, mungkin aku langsung saja ya Nis. Dulu aku pernah bilang kan aku susah jatuh cinta karena hatiku sudah tertambat padamu”
“Iya, terus?”
“Melihat gelang itu aku ingin bertanya. Apakah kamu juga merasa seperti itu?”
Sungguh, pertanyaan itu mampu membuat ingatanku kembali pada jaman SMA dulu.
“Memang kenapa?”
“Kalau iya, maukah kamu menjalin hubungan lagi denganku”
Pertanyaan itu terulang lagi dalam hidupku, tapi kali ini aku tidak akan mengatakan yes, karena aku tidak akan membuat ayah kecewa lagi.
“Maaf, Ri. Aku tidak bisa”
“Kenapa, apa karena kamu telah berkekasih atau kamu tidak mencintaiku?”
“Bukan Ri, sebenarnya sejak kejadian iti aku sama sepertimu, hatiku telah tertambat padamu. Dan aku mencintaimu”
“Lantas, apa penyebabmu menolakku. Bukannya gelang itu masih kau kenakan?”
“Aku tidak mau mengecewakan ayahku untuk kedua kalinya dan aku juga tahu kalau pacaran itu dilarang”
Entah kenapa saat aku berkata seperti itu Arie menjadi tertawa geli.
“Kamu kenapa?” Tanyaku bingung
“Hahaha, maksudmu hubungan yang kumaksud pacaran?” Jawabmu
“I,iya kan. Memang hubunga apa?” tanyaku kembali
Aku bingung apa yang dimaksud Arie, sikapku jadi kikuk
“Hubungan selain pacar lah Nisa”
“Memang hubungan apa?” tanyaku yang belum paham apa maksud Arie
“Nis, will you marrie me?”
Subhanallah, ternyata hubungan ini yang ia maksud. Hatiku sungguh tersentuh mendengar ucapan itu.
“Yes, I will” jawabku singkat karena merasa terharu dan tak bisa berkata apa-apa.
Setelah itu, kami pergi kerumahku untuk menghadap ayah. Kemudian Arie berbincang bincang lama dengan ayah, entah apa yang mereka bicarakan. Yang kutahu hanya persetujuan ayah menerima lamaran arie, saat itu ibu memelukku sambil mengucapkan selamat.
***
(Lima bulan kemudian)
“Saya nikahkan Arie Saputra bin Sukardi dengan anak saya, Annisa Rahmawati bin Benny Sudipjo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 20 gram dibayar tunai”
“Saya terima nikahnya Annisa rahmawati binti Benny sudipjo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Bagaiman para saksi, sah sah”
“Saaah”
“Alhamdulillah”

Posted from WordPress for Android

Iklan

Pilophobia – 1

“Mau sampe kapan loe lari dari cinta?!” Begitulah tanya Tyas, sahabatku sejak kami dilahirkan. Ini bukan pertama kalinya dia bertanya seperti itu, sejak gue kelas 3 SMA gak tahu kenapa gue jadi pribadi yang takut untuk jatuh cinta dan semenjak empat tahun terakhir ini gue jadi ngerasa cemas, gelisah, takut dan ngeri kalau ada orang yang nyatain cinta ke gue. Kata Tyas, itu penyakit cinta yang namanya pilophobia. Dimana seseorang takut untuk jatuh cinta karena mengalami masa lalu yang kelam tentang cinta. Memang sih waktu SMA, pengalaman cinta gue selalu berakhir pahit. Misalnya aja diputusin tanpa sebab, diselingkuhi, dibuat sakit hati didepan mata, dijadiin taruhan ditikung dan masih banyak lagi. Makanya gak heran kalau sekarang gue kena penyakit pilophobia.
***
Sore itu, gue sama Tyas lagi jalan ke sebuah toko buku. Dia ngajak gue ke rak buku bagian serba aneka yang letaknya berada diujung kanan dari toko buku itu.
“Loe mau nyari apa sih Yas?” Tanya gue penasaran
“Udahlah, loe diem aja. Ntar kalo gue udah dapet bukunya baru gue kasih tahu” jawabnya yang malah bikin penasaran
Tyas masih sibuk nyari buku yang dia pengen, sementara gue yang jalan dibelakangnya memperhatikan buku-buku di rak serba aneka itu sambil ngebaca judul-judul bukunya.
“Cara Meningkatkan Massa Otot, Langsing Semriwing, Wacana Anti Galau, Move On Ala Bang Jack” gumamku yang iseng ngebaca judul-judul buku dirak itu
“Nah, ini dia!!!. Akhirnya ketemu juga” seketika suara Tyas menghentikam gumamanku.
“Nemu apa sih loe?” tanya gue kepo
“Nih, baca sendiri judul covernya” Tyas memberikan buku berwarna pink itu ke gue
“Move on dari Pilophobia???!” Gue ngebaca judul cover itu dengan penh keanehan dan kemudiam mengerutkan alis ke arah Tyas
“Bagus kan. Dengan buku itu, loe akan gak takut buat jatuh cinta lagi” jawab Tyas dengan senyum nakalnya
“Ah, apaan sih loe Yas. Enggak ah gue gak mau baca. Bukunya tebel banget. Mending pulang yuk!” Gue kesel dan narik tangan Tyas untuk keluar dari toko buku itu.
“Eittss!” Tyas narik tangan gue
“Enak aja pulang, udah deh loe gak perlu susah-susah baca. Ntar gue aja yang baca dan pelajari. Setelah itu gue akan obatin loe. Gimana?!”
“Udah deh, gak usah lebay. Ntar jiga ilang sendiri kok”
“Ran, mau sampai kapan loe kayak gini terus. Loe itu udah 21 tahun dan masih aja gak bisa buka hati untuk orang, apa kabar loe 3 tahun kepedan? Tetep gini-gini aja?”
Kata-kata Tyas barusan cuma bikin gue diem dan gak bisa ngomong apa-apa
“Percaya gue, loe gak akan takut jatuh cinta lagi!”
Suasana jadi hening, dan gue gak bisa berkata apa-apa lagi setelah itu.
Tepat tiga hari setelah beranjak dari toko buku itu, Tyas dateng kerumah gue dan dia bilang kalau sudah nyelesein baca buku pilophobia kemaren. Katanya, kalau gue pengen sembuh dari pilophobia, yang pertama gue harus berusaha jatuh cinta sama orang, kedua hilangkan pikiran tentang masa lalu yang kelam, jangan lari saat ada orang yang nyatain cinta dan mencoba menghargai perasaan orang. Sebenernya gue juga bingung, masa sih buku sebetel kamus cuma segitu intisarinya. Kan aneh. Tapi kebingungan itu cuma gue simpen dalem hati aja.
Setelah kejadian malam itu, Tyas melancarkan pengobatannya ke gue dengan mengenalkan berbagai macam cowok setiap harinya. Selesai kuliah, dia selalu ngajak gue jalan entah itu makan, nonton, ke toko kaset, ke toko buku, atau hanya sekedar duduk-duduk dipinggiran sungai mahakam. Dan ketika itu, dia ngenalin cowok ke gue. Tapi, dari semua cowok yang dia kenalin gak ada satupun yang bikin gue klepek-klepek. Yang ada gue malah ilfeel ngeliatnya, gimana coba gak ilfeel, cowok yang dia kenalin ke gue itu semuanya sinting. Ada yang dateng-dateng langsung ngegombal gak jelas, ada yang ketemu malah langsung ngajak nikah, ada yang cuma diem sambil mainin gadget, ada yang langsung ngajak ketemuan sama ortu gue. Aneh kan. Makanya gue sempet marah sama si Tyas waktu dia pengen ngenalin cowok ke gue disebuah kafe ternama di Samarinda
“Ran, coba deh loe kenalan sama cowok ini. Orangnya asik kok” kata Rani yang masih berusaha nyembuhin gue
“Yas, udah dong. Cukup… mau cowok model gimana lagi yang mau loe kenalin ke gue. Mau yang tipe apa lagi. Gue capek Yas kalo gini terus. Bukannya pilophobia gue ilang, yang ada gue bisa stress… jadi gila” jelas gue
“Tapi kan, loe itu memang harus memperbanyak relasi ke cowok supaya bisa bebas dari pilop loo” Tyas berargument
“Mau relasi yang gimana lagi, mau tips yang bagaimana lagi biar gue bisa sembuh?. Udah Yas, gue capek”
“Ran, gue pengen loe sembuh dan bisa jatuh cinta lagi”
“Tapi nggak gini caranya, Tyas. Jujur, gue gak nyaman banget. Gue ngerasa kayak cewek kesepian dan tiap hari ngedate atau ketemuan sama cowok-cowok aneh, tiap malem handphone gue rame sms dari mereka. Gue capek Yas” jelas gue dengan nada emosi
“Tapi menurut buku….”
“Buku apa? Buku pilop kemaren? Udah cukup. Gue gak mau denger buku itu lagi” potong gue yang lagi marah.
Habis ngomong gitu, gue langsung ninggalin Tyas gitu aja dan lebih memilih naik angkot ketimbang satu motor sama dia